Jurnalisme Apoteker
Redaksi Warta Apoteker Menerima Artikel / Opini Sejawat Apoteker Indonesia. +62-812-1067-4892
Kantor Berita Apoteker Indonesia
Subagiyo Dot ComApoteker Indonesia
ATV Motor
ATV Motor
Kantor Berita Apoteker Indonesia

Apoteker Praktik Pemberi Solusi, Terdepan Dalam Pelayanan Obat

apt. Roviq Adi Prabowo, RFP., CT.NNLP.

banner 468x60

SOLO, WARTA-APOTEKER.COM – Saat masyarakat menyimak berita terkait adanya kasus gagal ginjal akut, yang diduga karena adanya cemaran etilen glycol (EG) atau dietilen glycol (DEG) pada syrup tertentu, maka terjadilah kepanikan di masyarakat saat ini. Padahal ini masih sebatas dugaan, karena belum ada data validitasnya karena sedang dilakukan investigasi.

Agar tercipta ketenangan, masyarakat perlu pendampingan informasi yang tepat agar tetap menggunakan obat tepat sebagai ikhtiar kesembuhan pasien. Di sinilah, para Apoteker yang praktik hadir memfungsikan sebagai pemberi solusi dan terdepan dalam pelayanan obat.

Promo Lebaran 1445H

Bagaimana para Apoteker praktik mengambil perannya sebagai pemberi solusi dalam situasi seperti ini ?

  1. Apoteker perlu menjelaskan bahwa kejadian gagal ginjal akut pada anak, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Artinya, bukan obat syrup satu – satunya penyebab. Dan untuk mengetahui kepastiannya, saat ini sedang di investigasi lanjut agar ada hasil data validnya.
  2. Sesuai aturan dari BPOM untuk produk syrup, bahwa tambahan pelarut etilen glycol (EG) & dietilen glycol (DEG) telah dilarang di Indonesia. Namun, kemungkinan cemarannya masih ada jika menggunakan pelarut gliserin, propilen glikol & polietilen glikol. Perlu diinformasikan juga, bahwa pada ambang batas gliserin nabati, propilen glikol : 0.1 %, dan polietilen glikol 0,25 % sesuai standar US Pharmacopeia serta Farmakope Indonesia dinyatakan : aman. Apoteker perlu menekankan adanya standar keamanan ini, kepada masyarakat agar lebih tenang.
  3. Perlu dijelaskan ke masyarakat oleh Apoteker praktik, bahwa industri obat dalam pembuatan syrupnya bisa menggunakan bahan tambahan lain, semisal : air, ethyl alcohol. Jadi etylen glycol (EG) & dietilen glycol (DEG) yang telah nyata dilarang tersebut, bukan satu – satunya pelarut dalam syrup.
  4. Apoteker perlu menegaskan bahwa penggunaan sediaan syrup kering, aman untuk pasien karena menggunakan bahan tambahan pelarutnya berupa air.
  5. Perlu diketahui bahwa bahan tambahan gliserin nabati, propilen glikol, & poli etilen glikol tidak hanya digunakan dalam syrup, namun juga digunakan dalam produk olahan makanan. Bahkan di sisi yang lain, ini juga dipakai bahan tambahan dalam sediaan kosmetik. Sesuai poin 2 diatas, ada batasan standar aman sehingga masyarakat tidak perlu panik untuk hal ini.
  6. Penggunaan bahan tambahan propilen glycol, poli etilen glycol, dan gliserin nabati tidak hanya digunakan di Indonesia saja. Di Amerika Serikat dan Eropa bahan tambahan ini juga digunakan dalam proses industri obat, kosmetik, dan makanan.
  7. Beberapa referansi menyebutkan bahwa, dosis dietilen glycol (DEG) yang menyebabkan keracunan senilai min. 0.14 mg/kg BB, dan yang menyebabkan kematian antara 1000 – 1630 mg/kg BB. Sedangkan etilen glycol (EG), dosis yang bisa menyebabkan kematian 1400 – 1600 mg/kg BB. Hal ini bisa dijadikan pegangan referensi Apoteker praktik, untuk menjelaskan kepada pasien anda.
  8. Selain sediaan cair syrup obat, ada sediaan cair selain syrup. Contohnya : sediaan cair suspensi, sediaan cair elixir. Para apoteker praktik, silahkan ditunjukkan beberapa varian produk tersebut di Apotek. Karena ini bisa jadi solusi untuk pasien. Bahkan, ada sediaan suppositoria dan pulveres yang bisa juga sebagai solusi alternatifnya.

Berdasarkan beberapa ulasan diatas, maka Apoteker praktik saat ini sangat ditunggu informasi serta peran keputusan profesionalnya untuk menyajikan sediaan obat-obat yang aman dikonsumsi pasien. Apoteker harus mampu menakar juga resiko dan manfaat, bila obat tidak dikonsumsi dan jika obat harus di konsumsi dengan memantau efek klinisnya pada pasien serta efek yang tidak di inginkan.

Selamat melayani para pasien, untuk para Apoteker praktik di tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *