Jurnalisme Apoteker
Redaksi Warta Apoteker Menerima Artikel / Opini Sejawat Apoteker Indonesia. +62-812-1067-4892
Kantor Berita Apoteker Indonesia
Subagiyo Dot ComApoteker Indonesia
ATV Motor
ATV Motor
Kantor Berita Apoteker Indonesia

Dewan Pakar IAKMI: Apoteker Tidak Akan Keliru Membaca Resep

Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI (Foto: Istimewa/medcom.id)
banner 468x60

WARTA-APOTEKER.com, CILEUNGSI – “Para apoteker melakukan validasi atas resep yang diterima kepada  dokter yang meresepkan obat,” kata Hermawan.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indoneisia (IAKMI) ini menyampaikan hal tersebut dalam webinar  “Peran Digitalisasi dalam Mengembangkan Inovasi dan Bisnis di Industri Farmasi” pada Rabu, 17 November 2021.

Promo Lebaran 1445H

Masih menurut Hermawan Saputra seperti dilansir TEMPO.CO, pasien tak perlu khawatir para apoteker akan keliru  membaca nama obat, dosis, dan cara mengkonsumsinya seperti yang tertera pada resep tertulis maupun resep  digital.

Hal tersebut menjawab kekhawatiran pasien atau keluarganya yang membaca resep dokter mungkin bertanya-tanya, apa nama obat yang tertulis pada kertas resep.

Lantas timbul pertanyaan apakah apoteker yang membaca tulisan itu mengetahui apa isinya? Timbul kekhawatiran,  jangan-jangan mereka salah baca lalu salah memberikan obat kepada pasien.

Beberapa rumah sakit dan klinik sudah memanfaatkan sistem manajemen termasuk penulisan resep. Dengan sistem  komputerisasi saat ini, penulisan nama obat, jumlah, bentuk sediaan dan cara pakai dilakukan dengan cara diketik untuk kemudian dikirim ke instalasi farmasi.

Peran apoteker bukan sekadar membaca resep, menyediakan obat, lalu memberikannya kepada pasien, Hermawan menjelaskan soal resep. Masih menurut Hermawan, para apoteker juga memberikan edukasi soal dosis dan  petunjuk mengkonsumsi hingga pasien paham dan meninggalkan ruang instalasi farmasi.

Digitalisasi resep tadi, kata Hermawan, memudahkan, meminimalisir bias, dan mencegah kesalahan dalam membaca resep oleh apoteker.

Hermawan menambahkan, perlu upaya tambahan dalam rantai bisnis industri farmasi, yakni sertifikasi dan standardisasi dalam pengemasan dan pengiriman obat. Dengan layanan farmasi digital yang kian mengemuka dan  banyaknya orang yang memanfaatkan jasa kurir pengiriman obat, dia menilai harus ada standar dalam pengemasan  dan pengantaran obat.

Kurir obat tidak sekadar mengantar obat dari apoteker ke rumah pasien, namun juga mampu menjelaskan atau  menyampaikan pesan dari apoteker kepada pasien.

Soal pengemasan obat, Hermawan mengingatkan pentingnya  menjaga sediaan farmasi dari kontaminasi. “Prosedurnya tidak bisa disamakan dengan barang lain yang mungkin  terpapar udara,” kata dia.

Sumber: TEMPO.CO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *