banner 728x250

Banjir Dukungan, Aksi ISMAFARSI Terancam Gagal?

  • Bagikan
Foto Istimewa: Kebijakan & Advokasi/ismafarsi.org
banner 468x60

WARTA-APOTEKER.com, CILEUNGSI – Dua organisasi di bidang farmasi memberikan dukungan untuk Aksi Aspirasi Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesi (ISMAFARSI). Kedua organisasi tersebut adalah Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

APTFI adalah organisasi yang mewadahi seluruh lembaga pendidikan tinggi farmasi yang ada di Indonesia. Sementara IAI adalah satu-satunya Organisasi Profesi Kefarmasian di Indonesia yang merupakan perubahan dari Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 41846/KMB/121 tertanggal 16 September 1965.

banner 336x280

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Pimpinan Perguruan Tinggi Farmasi, APTFI menghimbau agar seluruh Pimpinan PTF di lingkungan APTFI agar dapat memfasilitasi mahasiswa yang ingin bergabung dalam aksi tersebut. Sementara Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia dalam suratnya memandang penting kegiatan ini dalam rangka mendorong DPR RI agar berkenan menjadikan RUU Kefarmasian dan Kemandirian Farmasi Nasional ke dalam Prolegnas Prioritas tahun 2022 dilanjutkan dengan pembahasan yang pada saatnya disahkan menjadi Undang-Undang.

AKSI TERANCAM GAGAL?
Informasi yang dihimpun WARTA-APOTEKER.com diketahui bahwa aksi ISMAFARSI pada tanggal 19 November 2021 kali ini, dimaksudkan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2021. Mahasiswa farmasi akan melakukan aksi perifer di 3 pulau besar Indonesia (Kalimantan, Sumatera, Sulawesi) dan aksi terpusat di pulau Jawa (Jakarta) dengan menyampaikan langsung aspirasinya ke DPR RI.

“Kami sedang Ujian Tengah Semester, tidak mungkin ditinggal,” ungkap salah satu mahasiswa farmasi. Ada juga kampus yang mengancam memberikan sangsi DO (Drop Out) kepada mahasiswa yang ikut aksi. Dihubungi terpisah, apt. Zainul Islam, S.Si., M.Farm, dosen farmasi di Jakarta menyayangkan kejadian ini.

“Tergantung mahasiswanya, berani atau tidak untuk demo memperjuangkan aspirasinya tanpa takut ancaman dari manapun termasuk kampus,” terang Zainul.  Masih menurut Zainul, Sekretaris Jenderal ISMAFARSI 2002 – 2004 – pada Munas IX tanggal 8 – 13 September 2002 di Universitas Andalas, hal serupa pernah dialami dirinya saat menjadi mahasiswa. “Saat akan melakukan demo, kami datang ke pimpinan dan mempersilakan pimpinan melakukan DO dengan syarat yang di-DO harus semua mahasiswa,” tutup Zainul.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *