banner 728x250

Pengabdian Kepada Masyarakat, Farmasi UP Melatih Siswa SMA Memanfaatkan Limbah Empon-empon

  • Bagikan
banner 468x60
apt. Diah Kartika Pratami, M.Farm, Dosen Bidang Bahan Alam Farmasi Universitas Pancasila

WARTA-APOTEKER.com, Srengseng – Pada hari Jumat (12/11) dan Minggu (14/11) telah dilaksanakan pelatihan pembuatan jamu ramuan tradisional dan ecoenzym dari limbah empon-empon yang diikuti oleh dosen, mahasiswa dan masyarakat. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari yang dilaksanakan secara daring dan luring. Kegiatan ini terselenggara dalam rangkaian program Matching Fund yang didanai oleh Kemendikbud Dikti dan PT Arthaguna Ciptasarana (ACS). Instruktur pelatihan adalah mahasiswa yang mengerjakan studi independen dalam kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Prof. Dr. apt. Shirly Kumala, M.Biomed menyambut baik kegiatan pelatihan pembuatan jamu dan ecoenzym dari empon-empon. “Pada kegiatan ini mahasiswa belajar membagi pengetahuan kepada masyarakat. Pada program ini PT. ACS memberikan lahan seluas 2 hektar untuk ditanami empon-empon seperti jahe merah, kunyit, kencur, dan temulawak. Kemudian mahasiswa mengembangkan produk jamu ramuan tradisional dalam bentuk minuman jamu dan serbuk instan. Kapasitas produksi mencapai 4000 kemasan perbulan. Kemudian juga dilakukan pembuatan produk ecoenzym sebanyak 20 liter per- proses.” ujar Shirly Kumala.

banner 336x280

Dr. Ir. Setia Damayanti, M.Si selaku ketua Matching Fund, senang sekali pelatihan dari tim matching fund Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (FFUP) dapat terlaksana dengan baik. Semoga masyarakat dalam hal ini siswa SMAN 1 Ciseeng dan SMAN 1 Parung Kabupaten Bogor dapat menerima manfaat dari kegiatan ini.

Ir. Safitri Siswono, SE, MM, pimpinan PT. ACS mengatakan jamu sebagai minuman tradisional bukan hanya dapat menjaga Kesehatan namun juga bisa sebagai konservasi alam serta budaya. Ia menambahkan, pembuatan ecoenzym mendukung konsep pembangunan sirkular ekonomi, dimana limbah disirkular lagi kemudian dimanfaatkan.

Melwinda Fitri, S.Pd, M.Pd, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Parung, mengungkapkan anak-anak harus cerdas dalam memanfaatkan tanaman obat di sekitar, terutama yang bermanfaat dalam peningkatkan daya tahan tubuh. “Sebagai sekolah adiwiyata, program ini sejalan dengan kegiatan kewirausahaan di sekolah kami. Dengan adanya kegiatan ini, kami mendapat bimbingan dari ahlinya. Kami mengucapkan terimakasih kepada FFUP telah melibatkan SMAN 1 Parung”, ujarnya.

Apt. Diah Kartika, M.Farm, dosen bidang bahan alam FFUP, membimbing sejumlah mahasiswa yang melaksanakan studi independen MBKM dalam pembuatan jamu ramuan tradisional dari empon-empon. “Penggunaan herbal saat pandemi, sebagai salah satu upaya pencegahan melalui peningkatan imunitas tubuh perorangan. Dalam kegiatan ini mahasiswa yang telah mendapatkan ilmu kemudian melaksanakan dan membagikannya kepada masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi. Aspek IKU yang dicapai terkait kualitas lulusan yaitu IKU 2, Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus”, ungkapnya.

Apt. Desi Nadya Aulena, M.Farm, dosen bahan alam FFUP, yang juga sebagai pembimbing mahasiswa studi independen MBKM dalam pembuatan jamu ramuan tradisional dari empon-empon, menyatakan penerapan sanitasi dan hygiene sangat penting untuk mencegah timbulnya kontaminasi kimia, mikrobiologi atau benda yang tidak diinginkan pada jamu yang diproduksi.

Dr. apt. Novi Yantih, M.Si, dosen FFUP sekaligus Wakil Rektor 2, menyatakan pembuatan ecoenzym dalam rangka pengelolaan sampah mandiri, dengan mengurangi 10% sampah kita dapat mengurangi 544 kg karbon dioksida. Dengan membuat ecoenzym, kita telah berpartisipasi mengurangi beban bumi sekaligus menerapkan gaya hidup minim kimia sintesis. “Langkah membuat ecoenzym dari limbah pembuatan jamu ramuan tradisional, awalnya persiapan bahan. Siapkan wadah plastic, masukan air ke dalam wadah sebanyak 60% dari volume wadah, masukan gula merah/molas eke dalam wadah yang berisi air, masukan sisa limbah jamu ramuan tradisional yang sudah diptong kecil-kecil ke dalam wadah. Setelah bahan tercampur, tutup rapat wadah, dan diberi perlakuan membuang gas dan pengadukan pada waktu yang ditentukan, kemudian ditunggu selama 3 bulan, ecoenzym siap dimanfaatkan”, jelas Novi Yantih.

Pelatihan secara luring dilakukan di SMA N 1 Parung, melibatkan 10 mahasiswa sebagai instruktur pelatihan, didampingi 3 orang dosen dan 3 orang guru sekolah. Sejumlah siswa yang mengikuti tampak antusias mengikuti pelatihan sampai selesai. Ketika diberikan tantangan mensosialisasikan kegiatan ini pada medsos masing-masing, mereka berlomba-lomba membuat yang terbaik.

Tikah Malikhah, mahasiswa semester 7 FFUP, mengungkapkan senang sekali bisa terpilih sebagai mahasiswa studi independen dalam program Matching Fund. “Kami melakukan inovasi dan kolaborasi yang dapat memberikan maanfaat untuk masyarakat. Matching fund merupakan wadah yang tepat bagi mahasiswa menuangkan ide-ide kreatif, sebagai ladang ilmu, sekaligus memberikan pengalaman yang luar biasa sebelum masuk ke jenjang dunia kerja. Matching fund membentuk karakter  dan meningkatkan softskill bagi mahasiswa.

Faiza Namira Fahim, mahasiswa semester 7 FFUP, melakukan riset dan studi independen pada kegiatan matching fund. “Di masa kuliah ini, saya berkesempatan bergabung dalam matching fund, mengembangkan produk ramuan jamu ramuan tradisional yang diuji aktifitas sebagai antiinflamasi.  Saya belajar banyak hal baru, yang seru, menarik dan menambah wawasan. Dimulai menanam empon, berinteraksi dengan warga sekitar, mengikuti ujian kompetensi pengobatan ramuan tradisional, lau dapat mengajari adik-adik SMA cara pembuatan dan nanti diharapkan dapat membuat bisnis jamu ramuan tradisional ala Universitas Pancasila”, ungkap Faiza.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *